Wednesday, June 25, 2008

Visi Baru Indonesia

Untuk meraih kesuksesan dan memberi nilai diri, seseorang harus memiliki visi atau tujuan hidup . Begitu pula sebagai sebuah bangsa. Visi founding fathers adalah mencapai kemerdekaan. Mereka berhasil memenuhi cita tersebut dengan berdirinya Republik Indonesia. Setelah merdeka, di bawah Presiden Sukarno kita memiliki Visi Revolusi dimana bangsa Indonesia menjadi inspirator sekaligus organisator untuk untuk memerdekakan bangsa-bangsa terjajah di dunia. Maka terjadilah Gerakan Non Blok diawali Konferensi Asia Afrika di Bandung yang amat bersejarah. Visi itu sukses dengan merdekanya puluhan negara jajahan tidak beberapa lama setelah itu. Kemudian sejenak kita kehilangan visi, maka terjadilah pergulatan dalam negeri menumbangkan Orde Lama menandai dimulainya Visi Pembangunan di bawah Presiden Suharto.


Visi Pembangunan pada awalnya membuat semua komponen masyarakat bergairah menjalankan roda perekonomian. Slogan “Menuju Indonesia Tinggal Landas” begitu populer dan memacu adrenalin anak-anak bangsa. Namun karena berbagai penyakit yang makin lama semakin parah menghinggapi Orde Baru seperti KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme), pembungkaman masyarakat sipil, dan mencapai titik kulminasi pada krisis ekonomi 1997, akhirnya visi Orde Baru tersebut mati. Lalu mulailah Orde Reformasi.


Namun sayang sungguh sayang, Orde Reformasi ini tidak memiliki visi. Visi utama para arsitek orde ini adalah menjatuhkan Suharto. Kini, setelah Suharto lengser keprabon, pemerintahan saat ini seperti kehilangan arah dan tujuan, untuk alasan apa dan untuk menjadi apa bangsa besar ini dilahirkan oleh Allah di atas dunia ini.


Visi Baru Indonesia


Jelas sekali pentingnya Indonesia hari ini memiliki visi baru. Karena tanpa visi, kita seperti orang yang tidak memiliki arah dan tujuan hidup. Bingung. Tanpa kejelasan. Tanpa gairah. Berkubang pada pekerjaan-pekerjaan remeh temeh. Berdebat dan berkelahi karena alasan-alasan sederhana. Karena kita tidak memiliki visi bersama, visi besar milik semua.


Atau jika kita anggap, visi besar kita meraih kemerdekaan serta visi-visi lainnya telah tercapai, kita seolah-olah telah tiba pada final destination. Kita telah sampai di terminal akhir. Ibarat seorang manusia, kita telah menjadi seorang yang tua renta, menunggu ajal menjemputnya. Sepi dari impian besar. Jauh dari cita-cita.


Jika tidak ingin Indonesia hilang, tenggelam atau keberadaannya antara ada dan tiada, kita butuh visi Indonesia baru. Kita butuh visi yang menarik, dan menggairahkan. Kita butuh visi besar, sekarang juga.


Setelah melakukan perjalanan ke 5 negara yang menjadi deklarator ASEAN bersama Indonesia (Singapura, Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, Thailand dan Filipina), saya seperti mendapat pencerahan. Tentang visi Indonesia....



Indonesia No. 1


Visi dan mimpi yang saya tawarkan adalah, dalam waktu beberapa tahun kedepan, Indonesia harus mengembalikan wibawa utamanya di kawasan ASEAN. Tidak bisa tidak, Indonesia harus No.1 dalam berbagai hal! Kita mulai dari yang paling dekat dengan kita yaitu ASEAN. Bayangkan kita terdepan dari 9 negara lainnya.


Untuk itu, kita harus mulai dari hal yang sudah kita miliki, dari modal yang tidak kita sadari merupakan berkah buat kita. Antara lain adalah:

1. Modal pertama kita adalah daratan dan perairan. Sadarkah bahwa kita memiliki tanah yang begitu luas dan subur serta lautan yang sngat kaya? Modal ini akan menghasilkan produk utama dan mendasar bagi kehidupan manusia yaitu pangan. Dalam perang maupun damai, saat ini ataupun masa depan, kebutuhan akan bahan makanan akan selalu meningkat. Kita harus melipatgandakan seluruh upaya, dan sumber daya yang kita miliki untuk menjadikan sektor pangan menjadi prioritas utama. Oleh sebab itu, kita harus memfokuskan diri pada industri pertanian, peternakan, dan perikanan.


Sehingga kita bukan saja mampu swasembada pangan namun menjadi eksportir pangan No. 1 untuk ASEAN. Bukan Thailand Vietnam, atau yang lainnya. Dari Indonesia mengalir beras, kedelai, jagung, kacang-kacangan dan biji-bijian lainnya Juga buah dan sayuran, daging dan ikan serta bahan pangan lainnya. Bayangkan, pangan Made in Indonesia yang berkualitas tinggi membanjiri ASEAN. Semua negara ASEAN sangat tergantung pada Indonesia.


Pangan Indonesia No. 1!




2. Modal kedua kita adalah manusia. Sadarkah bahwa kita punya potensi sebanyak lebih dari 200 juta penduduk, yang siap mengubah wajah Indonesia? Jangan pernah lagi memandang jumlah penduduk yang sangat besar ini menjadi masalah, justru inilah kekuatan kita. Kita harus mengerahkan tenaga daya dan upaya kita untuk mempersiapkan, mendesain, dan mencetak tenaga kerja unggul. Dengan fokus pada pendidikan dan keterampilan sumber daya manusia untuk menghasilkan angkatan kerja yang profesional, berkarakter, berkapasitas global, maka bangsa Indonesia siap menjadi bangsa kelas profesional. Indonesia menjadi brand kelas atas, jaminan bagi perusahaan asing bahwa pekerja Indonesia amat sangat bisa diandalkan.


Tidak ada lagi cerita TKW yang dianiaya dan diperkosa majikan. Tidak ada lagi kasus TKI yang ditipu dan tidak dibayar gajinya. Tidak akan ada lagi TKW kelas babu. TKI kelas kambing. Yang ada hanyalah pekerja profesional Indonesia sebagai tenaga kerja terbaik di ASEAN. Terbaik dari segala segi: kualitas, komunikasi bahasa asing, gaji, dll. Saat Komunitas ASEAN berjalan efektif di tahun 2015, betapa menyenangkan menyaksikan bangsa kita menjadi bukan saja menjadi pekerja hotel, restoran, namun juga dosen, ustadz, akuntan, dokter, insinyur, bahkan pengusaha kecil sampai kelas kakap. Bayangkan betapa nikmatnya melakukan perjalanan di ASEAN, mudahnya makan makanan halal, gampangnya bertegur sapa menghilangkan rindu dengan kampung halaman....


Tenaga Kerja Indonesia No. 1!




3. Modal ketiga kita adalah alam dan budaya. Sadarkah bahwa negeri kita adalah zamrud khatulistiwa yang amat cantik nan menawan? Betapa indahnya alam kita dari sabang sampai Merauke. Betapa uniknya budaya ratusan suku yang kita miliki? Sudah saatnya kita melakukan pembenahan total industri pariwisata. Dimulai dari menjadikan Menko Perekonomian menjadi leader (bukan Menko Kesra), membangun organisasi solid, membenahi infrastruktur, sampai memasarkan dengan agresif industri ini. Semua jenis wisata kita jula, wisata alam, wisata kuliner, wisata budaya, dan wisata lainnya.


Bayangkan Indonesia menjadi tujuan utama wisatawan asing. Bukan 7 juta per tahun, bukan pula 12 juta tapi minimal 2 juta per bulan, total 24 juta wisman per tahun menyebar di ratusan titik wisata Indonesia. Bukan lagi Singapura, Maaysia atau Thailand yang disesaki wisman, namun Indonesia. Tidak saja Bali yang terkenal ke pelosok dunia, tidak ketinggalan Danau Toba, Borobudur, Bunaken, Senggigi, Biak, dan ratusan tempat wisata lainnya. Bayangkan betapa membanggakannya saat Indonesia menjadi The Truly ASEAN?


Pariwisata Indonesia No. 1!



Ayo Rebut Kembali!


Akhirnya, kisah betapa Indonesia dipandang sebelah mata di forum ASEAN hanya tinggal sejarah. Indonesia yang pada mulanya ASEAN berdiri merupakan kekuatan yang disegani, bahkan Sekretariat ASEAN berada di Jakarta, lalu kini seperti macan ompong akan kita akhiri dengan mengembalikan kekuatan sentral ASEAN adalah Jakarta, Indonesia. Jika kini dari berbagai segi, banyak kelemahan kita dibanding negeri-negeri jiran kita, akan kita kembalikan supremasi kita. Sekarang, di bidang ekonomi, kita tertinggal jauh dibelakang Malaysia, Singapura dan Brunei, di bidang militer kita semakin terpuruk dari kualitas alutsista (alat utama sistem pertahanan), di bidang pendidikan, penduduk kita yang sekolah ke negara tetangga berlipat-lipat kali dari penduduk mereka yang belajar ke Indonesia, nanti tidak akan lagi seperti demikian.


Bersama mari kita pertajam, perkuat, rundingkan, dan jangan lupa, wujudkan impian ini. Bravo Indonesia!

Pelajaran dari Kemenangan Obama 3 (Tamat)

3. Kekuatan Tim

Yang tak kalah penting dari kemenangan Obama adalah kekuatan orang-orang di belakangnya, behind the scene. Dan tim yang paling kuat di sini adalah netters. Ya, mereka yang suka berseluncur di dunia mayalah yang diincar Obama menjadi tim suksesnya. Dan dia berhasil menarik jutaan orang menjadi volunteer, bahu membahu mengampanyekan Change! We Can Believe In.


Yang bisa disimpulkan dan kita pelajari adalah, seperti piramida. Semakin tinggi, semakin berpengaruh posisi yang anda inginkan, semakin banyak dukungan yang anda butuhkan, semakin besar jumlah tim yang berada di di sekeliling anda.


Akhirnya, kita sama-sama menunggu kehadiran presiden kulit hitam pertama Amerika. Yang lebih penting lagi, apakah benar perubahan sebagaimana yang didengung-dengungkan. Kita lihat nanti...


Pelajaran akhir

Visi tanpa aksi seperti orang yang melamun, bagai pungguk merindukan bulan


Aksi tanpa visi seperti orang yang berjalan berputar tak tentu arah.


Namun visi dan aksi tanpa tim, seperti a desperate single fighter.

Monday, June 09, 2008

Pelajaran dari Kemenangan Obama 2

2. Kekuatan Aksi

Obama menjalankan aksinya menggapai visi besarnya memimpin Amerika dengan sistematis. Perlahan-lahan, dia membangun reputasinya di tengah masyarakat. Usai lulus dari Harvard, dia memilih menjadi community organizer, aktivis sosial. Padahal bukan hal sulit baginya untuk bergabung dengan law firm besar dan menjadi profesional berkantung tebal. Dia konsisten dengan pilihan hidupnya, dan total mengabdi pada kepentingan masyarakat di sekitarnya. Tak mengherankan, kemudian Obama muda terpilih menjadi anggota legislatif daerah. Bahkan dalam waktu singkat karirnya melaju pesat dan menjadi Senator di usia menjelang kepala empat.

Obama telah memilih rencana aksinya dengan fokus pada visi hidupnya. Dia tidak tergoda menjadi pengusaha. Tidak kepincut menjadi seorang profesional. Tidak buru-buru menjadi orang kaya raya. Tapi yang dibangunnya adalah capacity building. Yang ditimbunnya adalah kekayaan ilmiah dan leadership. Dia menumbuhkan suatu pilihan yang warga Amerika bahkan warga dunia tidak bisa tidak melainkan melihat dan berharap padanya. Dia berinvestasi pada keunggulan pribadinya.

Luar biasa, langkah menuju Gedung Putih dimulai dari menjadi pelayan komunitas.

Ingat sahabat, apa yang kita lakukan jika kita berhasrat mengelilingi dunia? Atau ingin menjelajahi Pulau Jawa dengan berjalan kaki? Yang kita lakukan pertama kali adalah tapakkan satu langkah kaki kecil pertama. Konsistenlah. Maka kita akan mampu menjelajah Jawa bahkan mengelilingi dunia.

Percayakah anda, jika si Badu mengambil sejumput pasir dan mengumpulkannya setiap hari, beberapa tahun kemudian dia bisa membangun usaha panglong, berjualan pasir? Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit.

Oleh karenanya, setelah kita memiliki visi, maka fokuslah. Jangan mudah tergoda untuk mencari jalan lain di luar rencana aksi yang telah kita susun.

Akhirnya, kekuatan visi tanpa aksi ibarat pungguk merindukan bulan. Oleh sebab itu, setelah kita memiliki impian dan cita, wujudkan segera. Jangan tunda lagi, melangkahlah!

Selanjutnya:
3. Kekuatan Tim

Friday, June 06, 2008

Pelajaran dari Kemenangan Obama

Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari kemenangan Obama memperoleh tiket capres Demokrat?
Menurut hemat saya, paling tidak ada 3 poin utama yaitu:

1. Kekuatan Visi

Visi yang ditawarkan Obama sangat kuat dan jelas. Obama menawarkan nilai Amerika baru yang jauh dari kekerasan, diskriminasi, dan pelecehan manusia. Obama mengampanyekan antitesis dari Amerika sekarang menjadi the common enemy penduduk dunia menjadi Amerika baru sang sahabat dunia. Obama membuka mata warga Amerika mengenai the Real American Dream. Obama juga menyihir Amerika dan memikat dunia dengan wacana humanis dan pilihan kata santun.

Alur berpikir "If you think you can, you can", terasa sangat kuat pada sosok ini. Keyakinan "Aku Pasti Bisa!" yang membawanya dalam perjalanan "Dari Jakarta ke Gedung Putih". Menggapai impian menjadi orang kulit hitam pertama yang memimpin Amerika. Setidaknya itulah yang saya tangkap selama mengikuti kampanye primary dan setelah menyelami pikiran-pikiran Obama dalam the Audacity of Hope.

Kita menanti tahapan selanjutnya dari kekuatan visi Obama. Setelah menang konvensi lalu mengalahkan Mc Cain, menjadi Presiden AS, dan yang terpenting adalah sukses merealisasikan semua impiannya yang telah memukau dunia. Dengan nilai-nilai Amerika mewujudkan dunia yang lebih baik.

Pelajaran/ Hikmah:
Miliki segera kekuatan visi.
Tegaskan niat.
Jangan takut gagal.
Yakini.
Minimal kita telah mendapat pahala, pahala niat.

Selanjutnya.....
2. Kekuatan Aksi