Friday, February 29, 2008

Mimpiku tentang Indonesia : Potret Kemacetan

Setiap pagi, dalam perjalanan menuju kantor, aku senantiasa merenung. Akan seperti apa potret Indonesia yang kita wariskan pada anak cucu kita?

Apakah ia adalah Indonesia yang punya segudang masalah sosial?
Begitu mudahnya para pengendara bertengkar, mulai dari adu mata, adu mulut sampai adu jotos hanya karena masalah yang begitu sepele: sesama motor berbenturan, tidak ada yang mengalah di perempatan, motor menyalip mobil atau sebaliknya, berhenti atau belok mendadak.

Kita seolah seperti bangsa barbar. Bukan lagi bangsa yang dikenal santun. Karena kini bangsa ini telah kehilangan keramahan, senyuman. Yang ada setiap hari hanya kecurigaan, mau menang sendiri, sikut kanan sikut kiri. Tidak ada budaya antri. Tidak ada lagi budaya mau mengalah untuk kepentingan umum. Yang muncul adalah yang penting aku, orang lain nomor sepatu.

Wajar saja jika para pengemudi ambulans mengeluh, begitu susah menerobos kemacetan untuk menyelamatkan nyawa pasien yang kritis. Karena tidak banyak pengendara, jika tidak ingin dikatakan tidak ada, yang bersedia memberikan kesempatan untuk ambulans. Akhirnya, banyak pasien yang wafat, karena terlambat ditangani. Selisih beberapa menit, menentukan hidup matinya seseorang yang bisa jadi ia adalah orang tua, istri atau suami, anak dan keluarga kita sendiri.

Lihat saja jalanan dengan mobil yang berbaris tidak beraturan, zig zag. Karena nyaris setiap orang ingin bergegas mendahului walaupun tetap saja terjebak dalam kemacetan yang sama. Akhirnya jalanan semakin macet karena kendaraan lain harus ber zig zag ria atau terhenti total di titik-titik kesemrawutan barisan kendaraan.

Kondisi itu ditambahi pula dengan riuh rendahnya suara klakson saat lampu hijau baru sepersekian detik menyala. Bahkan saat lampu masih merah, kita akan semakin terbiasa mendengar suara klakson atau raungan mesin, memerintah kita untuk segera melaju.

Itulah satu potret kecil tentang kehidupan sosial kita hari ini. Itukah Indonesia yang kita wariskan pada anak cucu kita.

Please, think about it....

Tuesday, February 19, 2008

Mimpiku tentang Indonesia

Cari tempat yang tenang. Duduk dengan rileks. Tarik nafas dalam-dalam dan lepaskan perlahan. Pejamkan mata. Bayangkan gambaran Indonesia hari ini. Keburukannya. Hal yang memalukan.

Bayangkan anak-anak jalanan yang meminta-minta di saat mereka seharusnya sedang duduk di kelas, belajar.

Bayangkan nasib orang-orang kecil yang setiap hari bingung, apakah masih bisa makan hari ini?

Bayangkan bagaimana rasanya kehilangan orang-orang yang kita cintai- istri, suami, anak, ibu, bapak, saudara- lalu terlunta-lunta hidup sebagai pengungsi.

Bayangkan sakitnya hati ibu yang menyaksikan mayat anaknya yang bunuh diri karena malu tidak mampu membayar uang sekolah.


Bayangkan pedihnya perasaan keluarga para pahlawan devisa saat menerima keranda jenazah anak mereka yang wafat karena disiksa majikannya.

Bayangkan menderitanya seorang anak yang merintih kesakitan karena orang tuanya tak bisa membawanya ke rumah sakit karena mereka tidak mampu membayar.

Saat anda duduk dan membayangkan semua itu, tak terasa airmata akan menetes. Seperti tetesan air mata yang mengalir di pipiku ini. Jangan hentikan air mata itu. Jangan hapus. Biarkan ia mengalir deras. Membanjir. Karena ia sangat bernilai. Ia, air mata yang menjadi saksi. Ia, air mata yang merupakan kesadaran. Ia, air mata yang menumbuhkan komitmen. Ia, air mata yang membuahkan aksi.

Aksi pertama yang kutawarkan adalah bermimpi. Bermimpi yang menumbuhkan harapan. Meneguhkan jiwa. Membangkitkan keyakinan. Menebalkan semangat. Menggugah emosi.

Bermimpi dengan membayangkan kebaikan. Kekuatan. Kesejahteraan. Kebesaran. Kejayaan. Bermimpi dengan membayangkan Indonesiaku, Indonesiamu, Indonesia kita di masa depan.

Pejamkan mata. Bayangkan gambaran Indonesia esok hari. Kebaikannya. Hal yang membanggakan.

Indonesia yang tidak lagi punya peminta-minta di jalanan.
Indonesia yang tidak lagi memiliki mustahik (penerima zakat) karena mereka semua sudah menjadi muzakki (pembayar zakat).
Indonesia yang manusianya sehat fisik dan jiwanya karena pengobatan gratis.
Indonesia yang terbebas dari kebodohan karena pendidikan gratis.
Indonesia yang terbebas dari penindasan ekonomi karena berintegritas.
Indonesia yang terbebas dari kemacetan dan jalan yang rusak.
Indonesia yang manusianya produktif dan inovatif.
Indonesia yang mengirim TKI profesional dan berpendidikan tinggi.

Indonesia yang rakyatnya paling santun dan pemaaf sejagad.
Indonesia yang rakyatnya menjadi pahlawan kemanusiaan di pelbagai bidang kehidupan.
Indonesia yang mampu mengibarkan benderanya dengan gagah di ajang kompetisi dunia.
Indonesia yang menjadi panutan dunia dalam kehidupan.
Indonesia yang relijius dalam kemakmurannya.
Indonesia yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur.

Silakan tambahkan mimpi-mimpi rekan semua. Mimpi apa saja.

Apakah anda sudah siap berbagi mimpi sekarang? Ayo bermimpi bersama....

Friday, February 08, 2008

Belajar untuk Bermimpi

Semuanya berawal dari mimpi....

Apa penyebab kemajuan umat manusia? Apa yang melatarbelakangi ribuan penemuan teknologi? Apa yang merangsang hasrat manusia untuk melakukan perubahan? Menjawab hal ini, Einstein mengatakan: "imagination is more important than knowledge". Artinya, imaginasi, impian, dan harapan kita jauh lebih bernilai dari capaian penemuan yang kita dapatkan. Dengan impian, maka penemuan manusia tidak akan pernah berhenti. Pengetahuan tidak akan pernah stagnan. Karena impian menjadi stimulan untuk bergerak dan bertindak.

Seperti mana di bangku sekolah kita bermimpi untuk memiliki pekerjaan yang layak, membangun keluarga harmonis, tinggal di sebuah rumah yang nyaman, dan akhirnya kita dapatkan beberapa saat kemudian. Seperti mana segenap bangsa kita bermimpi untuk merdeka selama lebih dari 300 tahun yang akhirnya kita peroleh pada 17 Agustus 1945. Artinya, apapun impian kita saat ini insyaAllah ia akan terwujud, cepat atau lambat. Believe me that the dream will comes true.

Mimpi kemarin kenyataan hari ini dan mimpi sekarang adalah kehidupan esok....

Coba lihat pesawat terbang. Mengapa ia bisa hadir saat ini? Sebabnya adalah dari dulu nenek moyang kita selalu bermimpi agar bisa terbang seperti burung di angkasa. Bisa melihat dunia dari langit. Bisa berpindah tempat dengan cepat. Maka mereka membuat sayap buatan dan naik ke atas bukit lalu mengepakkan sayap agar bisa terbang. Sebagian cedera, sebagian mati. Sampai akhirnya, happy ending. Ditemukanlah pesawat yang terus menerus di-upgrade dari semula pesawat baling-baling sampai menjadi jet super bahkan pesawat luar angkasa. Sehingga tiada lagi batas perjalanan, mengelilingi dunia bahkan menjelajah alam semesta. Sekarang, everyone can fly! Kita berhutang kepada nenek moyang kita. Berhutang karena mimpi merekalah, kita menikmati semuanya sekarang.

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk memberi respek pada mereka? Untuk menghormati jasa para pahlawan kemanusiaan? Apakah dengan membuat kuburan dan patung megah? Apakah dengan memberi gelar pahlawan dan sederet tanda jasa? Atau dengan menyebut-nyebut selalu jasa mereka di buku-buku sejarah? Ya, kita bisa memilih untuk melakukan itu semua untuk menghormati mereka. Namun ada cara terbaik untuk memperlihatkan respek sejati, menunjukkan penghargaan tertinggi kepada mereka semua yaitu dengan meneruskan cita dan impian mereka. Dengan tetap bermimpi. Impian yang lebih besar, lebih jauh, lebih hebat dari semua impian mereka. Impian yang menjadi kehidupan bagi anak cucu kita sebagaimana warisan mereka kepada kita semua hari ini. Itulah cara terbaik menghormati para pahlawan kita.

Dengan kata lain, jika pahlawan kemerdekaan dulu bermimpi memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dan mereka berhasil, maka kini kita juga harus memiliki mimpi sekurang-kurangnya untuk melenyapkan segala masalah yang menghalangi rakyat Indonesia dari menikmati kemerdekaan itu sendiri yang antara lain kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Sehingga nantinya kita wariskan Indonesia dalam wajah yang maju, beradab, dan terpandang kepada anak cucu kita.

Breaking the limitation....

Bagaimana mungkin kita bisa bermimpi dalam segala keterbatasan kita? Bermimpi dalam kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan seperti sekarang? Apa bisa? Apa mungkin bermimpi bahwa Indonesia menjadi negara besar dalam kondisi ibukotanya menjadi langganan banjir seperti sekarang? Dengan kondisi korupsi yang parah, tatanan sosial yang berantakan, ketidakpastian hukum, ancaman disintegrasi, dan keruntuhan moral serta berbagai problem besar lainnya. Bagaimana mungkin?

Tentu mungkin. Semua perubahan dimulai dalam kondisi ketidakpastian, kegoncangan dan keruntuhan. Seperti turunnya risalah kenabian pada masyarakat jahiliyah. Seperti kemerdekaan bangsa dalam penjajahan yang akut. Namun ada satu syarat utama yang membuat perubahan itu menjadi mungkin terwujud, yaitu impian yang kuat. Impian yang bersemanyam di dada dan senantiasa bergelora. Yang mendobrak segala keterbatasan. Yang melampaui semua kelemahan. Yang meniadakan ketidakmampuan. Breaking the limitation! Hancurkan segala halangan dengan impianmu!

Seperti perkembangan agama Islam. Berawal dari seorang nabi yang ummy, dari satu orang yang sendirian. Saat setiap pengikutnya ditindas di tanah kelahirannya sendiri, impiannya adalah kunci pintu kerajaan Romawi dan Persia. Tak berapa lama setelahnya, sejarah mencatat dua negara adikuasa tersebut jatuh kedalam pelukan Islam. Kini Islam tumbuh menjadi agama dengan penganut lebih dari 1 miliar manusia hanya dalam waktu 14 abad. Dan semakin pesat pertumbuhannya di setiap sudut dunia. Karena impian Nabi Saw yang lainnya adalah agar umatnya menjadi umat terbesar dan dibangga-banggakan di Hari Kemudian. Dari nothing menjadi something, dari nobody menjadi somebody. Berawal dari impian yang melampaui keterbatasan, impian yang dilatarbelakangi keyakinan.

Banyak lagi contoh, kisah nyata, dan pelajaran berharga yang bisa kita rujuk agar kita tidak mudah menyerah. Tidak gampang putus asa. Tidak cepat letih. Bukan saja dalam kerja, tindak dan amal kita, namun dalam membangun cita dan impian. Merancang visi. Membingkai harapan. Jangan pernah sekalipun kita mundur dari impian besar kita. Karena tidak ada impian yang mustahil. Yang ada hanyalah waktu yang terlalu singkat untuk mencapainya. Jadi, bermimpilah untuk diri sendiri, untuk keluarga, dan tentu saja untuk Indonesia.

Bermimpilah selagi mimpi itu masih gratis....

Bermimpilah dengan titik tolak bahwa kita mampu mencapai apapun yang kita inginkan. Bermimpilah sekarang. Bermimpilah selagi mimpi itu masih gratis. Karena saya khawatir, suatu masa kita harus membayar pajak atas rumah yang kita impikan. Kita harus membayar harga atas sebuah impian. Maka bergegaslah, saat ini juga, bermimpilah. Apa saja. Tuliskan impian tersebut. Keinginan anda apa adanya. Segera, selagi semua mimpi itu masih gratis.

Saturday, February 02, 2008

Indonesia : Apa dan Bagaimana?


Dalam ilmu manajemen kita mempelajari bahwa perencanaan yang baik merupakan 50% dari pencapaian sukses. Sebaliknya, jika kita gagal dalam merencanakan sesuatu berarti itu sama dengan merencanakan kegagalan.

Contoh yang sangat sederhana dalam kehidupan sehari-hari saja. Jika kita ingin melakukan sesuatu kita harus melakukan perencanaan. Dimulai dari tujuan kita. Misalnya kita ingin pergi ke Yogyakarta misalnya, maka kita harus membuat perencanaan. Kita harus memutuskan akan tiba jam berapa di sana, pagi, siang, atau malam. Mau berangkat dengan apa ke sana, dengan siapa, berapa biaya yang dikeluarkan untuk itu. Lalu kita pun berangkat dan besar kemungkinan kita tiba dengan selamat, InsyaAllah.

Akan berbeda hasilnya jika kita tidak tahu harus kemana kita pergi. Tapi kita ingin pergi. Yang penting pergi. Atau kita sudah memutuskan ingin ke Yogyakarta. namun mau dengan apa, dengan siapa, kapan tiba di tempat tujuan bukan hal penting bagi kita. Pokoknya, kita harus kelihatan pergi dari rumah. Sampai dimana nanti, bagaimana keadaan kita nanti, ya bagaimana nanti saja. Yang penting orang melihat kita sedang melakukan perjalanan. Maka hasilnya, tidak ada yang tahu. Mungkin tiba di Yogya, di Bali, di RS, atau di kantor polisi. Apakah ada kemungkinan tiba dengan selamat? Pasti ada tapi dengan tingkat kepastian yang kecil.

Perencanaan Indonesia
Bagaimana menurut kawan-kawan bagaimana cara kita mengelola bangsa besar ini? Apakah anda tahu seperti apa Indonesia pada 10, 20, 50, 100 tahun ke depan? Apakah semboyan "menuju masyarakat adil makmur sejahtera" telah kita terjemahkan menjadi langkah kongkret atau hanya menjadi slogan tanpa makna buat kita? Lalu bagaimana cara mencapai tujuan tersebut, jika memang ada, walaupun presiden selalu berganti? Dengan sumber daya yang terbatas, apa prioritas utama untuk mencapai tujuan tersebut secepat-cepatnya?

Saya sebagai warganegara Indonesia, tidak tahu apa gambaran Indonesia ke depan. Apa warnanya, rupanya, wujudnya. Kalau anda tahu, mohon beritahu saya. Kalau rumah tangga, organisasi, dan perusahaan saja punya gambaran besar tujuan mereka apalagi sebuah negara besar seperti Indonesia.

Namun, saya tidak ingin menyalahkan siapa-siapa. Tidak ingin meminta siapapun bertanggung jawab. Karena saya sendiri, sebagai unit terkecil bangsa ini, sebagai hambaNya yang ditakdirkan lahir dan hidup di bumi pilihanNya ini, yang harus bertanggung jawab. Bertanggung jawab untuk memikirkan kebaikan apa yang bisa saya sumbangkan untuk Indonesia, Zamrud Khatulistiwa. Negeri dengan lebih dari 17.000 pulau, dengan lebih dari 600 etnis dan suku bangsa. Bangsa besar dan insyaAllah akan semakin besar kontribusinya bagi peradaban dunia.

Ya Allah, berikan hamba kekuatan untuk ikut menyumbangkan pemikiran dari akal yang Engkau karuniakan padaku. Sedikit sedikit, semoga bermanfaat. Minimal pada diri hamba sendiri agar semakin bersyukur kepada-Mu.

Dalam perenungan, Kuala Lumpur

Friday, February 01, 2008

Membangun Visi Besar Bangsa Bersama

Mulai 1 Februari 2008 ini, InsyaAllah saya berjanji pada diri sendiri untuk memantapkan hati dan langkah agar bisa menghasilkan pemikiran besar dan bermanfaat. Untuk mematangkan diri sehingga mampu menelurkan wacana yang berharga. Untuk kebaikan, untuk umat, untuk bangsa ini. Mohon dukungan doa dan semangat dari kawan-kawan semua.