Monday, October 29, 2007

Tips Perjalanan buat First Time Traveller ke Singapore



Alhamdulilah, saya diberi kesempatan oleh Allah swt untuk melakukan perjalanan pertama ke luar nusantara, dengan dibiayai negara untuk tugas negara demi kedaulatan negara (duh nasionalis banget :)) halah).

Karena baru pertama kali ke luar negeri, ya seperti orang ndeso mau ke kota lagaknya. Bingung dan berdebar2... Alhamdulilah sekarang sudah kembali dengan selamat ke tanah air dan pastinya ingin berbagi terutama bagi first time traveller ke LN. Moga-moga bermanfaat dan jadi amal sholeh, Amien....

Let's start from the last day before departure

1. Siapkan bekal2 anda sedetail mungkin supaya tidak perlu beli perlengkapan yang sebenarnya bisa dibawa dari rumah. Misalnya perlengkapan mandi (jgn lupa sikat gigi iiih), pakaian dalam (kalo kotor semua gawat khan?), cemilan indonesia (obat kangen tanah air) dll. Jangan lupa sajadah untuk antisipasi tidak disediakan di hotel tujuan.

2. Aktifkan layanan Roaming Internasional telepon genggam anda. Kalau dari Matrix Indosat (aku pakenya itu) tinggal telepon operator aktifnya 3 hari kemudian (payah ya lama banget), dari Simpati Telkomsel kirim sms ke .... (cek aja di starter pack pas beli pertama) langsung seketika aktif duh hebat euy.... pengen pindah operator sih sebenarnya tapi nomor lamaku sudah terlanjur beken (loh kok jadi curhat gene?).

3. Sebaiknya sudah booking hotel via internet karena bisa gak dapat kamar di negara tujuan (kecuali disediain penyambut kita). Aku kemarin gak booking dulu, akibatnya gak dapat hotel. Kalaupun ada, hanya president suite (wow bisa bangkruttttt). Kapok deh. syukur ada alternatif lain di Lucky Plaza Apartment (nanti diceritain di bawah).

Hmm apalagi ya? Mungkin tambahannya adalah ....

4. Rajin2 liat di internet tentang lokasi dan negara yang kita tuju. Supaya kita tahu sedetail2nya tentang sikonnya, jadi gak terlalu kaget gitu. Juga nanya dari orang yang sudah pernah berkunjung ke sana. Okay?

Kemudian saat tiba di Sukarno Hatta airport

5. Check in.... Kalo barang bawaan gak terlalu banyak dan kopernya ukuran sedang sebaiknya tidak usah masuk bagasi. Bawa aja ke kabin. Tapi dengan syarat, tidak membawa cairan yang kemasannya di atas 100 ml. Kalau punya parfum atau something walaupun isinya dikit tapi botolnya lebih dari 100 ml. kalau lebih ya direlakan aja.... di buang ke tempat sampah (setelah dipake sepuasnya hahaha pengalaman pribadi).

6. Bayar airport tax dan fiskal. Repotnya di Indonesia, airport tax tidak digabung langsung dengan harga tiket, sehingga biasanya tidak termasuk biaya tiket yang bisa di reimburse ke kantor. Besarnya lumayan lah, Rp 100.000,- (di SH ya). Kalo fiskal bisa diurus pembebasannya setelah kita check in ke kounter pelayanan fiskal di dekat tempat check in. Kalo urusan dinas dengan paspor dinas, langsung saja ke gerbang imigrasi. Cukup tunjukkan paspor dinas dan surat dari setneg. Beres deh....

7. Melewati bagian imigrasi kalo pake paspor dinas langsung beres deh. Bebas antrian. Kalo penumpang biasa... Hmm..., belum ada pengalaman deh. Teman2 yang lain kasih komen aja oke?

8. Jangan lupa tukar uang rupiah anda di dalam negeri. Kalau di luar negeri, untung valasnya untuk orang luar negeri khan? Sebaiknya nukarnya di dalam setelah boarding alias lewat imigrasi. kalau yang di luar (dekat pintu masuk), itu mahal. Waktu itu aku lewat terminal 2 pintu 4. Ya lumayan selisihnya, walaupun hanya beberapa ratus rupiah kalau nukarnya jutaan khan lumayan untuk beli bakso....

9. Trus kalo mau makan sambil menunggu waktu berangkat, cari yang gratisan. Kalo anda punya kartu gold apalagi platinum atau yg lebih dari itu, ada tempat makan yang gratis. Kemarin aku dapat lounge yang boleh HSBC gold. Tapi sudah kenyang makan di McD, cuman minum air putih doang. pas mau cicip2, eh udah dipanggil awak pesawat.... Sayang banget euy.... hehehe....

10. Lalu terbang deh.... jangan lupa berdoa ya. Selisih waktu kita WIB dengan singapore adalah satu jam lebih awal. Waktu tempuh hampir 2 jam dikurangi satu jam selisih waktu seolah2 kita menenpuh kurang dari sejam perjalanan saja. Okay?

Tiba di Changi Airport....

to be continued yach

Friday, October 05, 2007

Motivasi Menjadi Pahlawan


Melihat bangsa yang sedang sakit membuatku frustasi.

Anak-anak balita berjejer di perempatan, tanpa alas kaki. Baju robek dan kumal. Remaja belasan tahun, di jam sekolah, mengamen dan menjajakan koran. Mereka lelaki dan perempuan berbaur dan hidup di jalanan, tanpa norma.

Mobil berderet panjang, ditingkahi dengan motor yang merayap. Saling salip, saling terjang.
Di perempatan yang penuh sesak, hukum tak lagi tegak.
Lampu lalu lintas hanya ditatap sesaat kemudian tak berarti apapun.
Semua sibuk, semua acuh, semua abai. Jalanan tanpa norma.

Banyak lagi masalah silih berganti, yang lebih besar dan lebih kompleks.
Namun dari masalah yang kita lihat di jalanan setiap hari... Terungkap dengan vulgar siapa kita sebenarnya. Bangsa seperti apa kita sebenarnya.

Melihat bangsa yang sedang sakit membuatku frustasi, awalnya demikian.

Sampai aku tersadar dengan kisah para pahlawan.
Bahwa pahlawan itu ada di saat kacau. Di saat bencana. Di saat kebobrokan. Di saat kehancuran di depan mata.

Bahwa pahlawan diciptakan oleh kesempatan. Bahwa pahlawan dimunculkan oleh momentum. Bahwa pahlawan dihadirkan oleh peluang. Bahwa pahlawan diharapkan karena sedang dinantikan.

Namun yang menjadi pahlawan sejati hanyalah dia yang mempersiapkan diri.
Pahlawanlah yang memiliki visi jauh hari sebelum yang lain melihatnya.
Pahlawanlah yang tahu sebelum sesuatu itu terjadi.
Pahlawanlah yang meraba dalam gelap saat semuanya terdiam.
Pahlawanlah yang menyalakan lilin saat semuanya mengutuki kegelapan.

Melihat bangsa yang sedang sakit tidak lagi membuatku frustasi.

Dalam bangsa yang sakit aku melihat peluang.
Ada pahala dalam amal.
Ada keberkahan dalam langkah.
Ada pengampunan dalam gerak.
Ada tiket keabadian dalam lelah.

Melihat bangsa yang sedang sakit membuatku lahir kembali....

Alhamdulillah, Allah yang sangat aku cintai telah membuka mata hatiku.
Bahwa inilah saat bagiku untuk meraih piala kepahlawanan.
Bahwa inilah masa yang dinantikan para pejuang kebenaran.
Bahwa inilah momen yang membahagiakan para pencari keabadian.

Melihat bangsa yang sedang sakit membuatku bersemangat!

Bismillahirrahmanirrahim..
Ya Allah, hambaMu ini bertekad....
Bahwa inilah saat untuk mengabdi padaMu.
Bahwa inilah rahasia takdir Engkau lahirkan aku di bumi yang bernama Indonesia.
Bahwa inilah panggilanMu bagi prajurit pilihanMu.

Sekaranglah saatnya, atau tidak sama sekali.

Kuatkan hamba ya Allah....
Menjadi pahlawan yang dinanti-nanti.
Agar hamba dapat terlahir kembali...
Dalam JannahMu yang abadi


(dalam renungan pembaharuan jiwa, palembang 21 march 2007)

Thursday, October 04, 2007

Motivasi Berjuang dan Momentum Semangat Baru!







Berikut sebuah dialog antara Mbak *** dengan Saya via email.

assalamu'alaikum

wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh mbak ***


Berdasar pendapat peserta training kemarin menyenangkan dan seru. Bahkan ada yg bilang waktunya kurang banyak. Wow!!

kurang banyak? duh kayaknya sudah ngebosenin khan dari jam 1 sampai nyaris jam 5 sore ya? Tapi kemaren itu saya juga klop banget ama materinya, pesertanya juga oke. Jadi nyambung abis deh.

Bahasa kerennya, chemistry kita nyambung deh...



yg membikin seru terutama ketika sesi "Selamat siang semua!!" Yah..., saking tidak terlupakannya sampai2 adik kos saya yang juga peserta berkali-kali mencoba di kos sambil bergumam gimana sih supaya suaranya bisa keras?

Duh, gak sampe bikin keributan khan? karena pandangan saya, wanita itu harus bisa bersuara lantang juga. Supaya gak mendayu-dayu dan jadi slow banget... Kalo tegas dan lantang, pasti cowok2 pada gak berani ngegodain khan? Apalagi khan sebagai pemimpin masa depan, kita harus bisa orasi dan persuade people... Tuh semua butuh volume yang besar khan?

Ntar latihannya bareng ama adik kelas di kos ya... Yang rutin hehehe.

he...satu lagi yang bikin berkesan.... Saat ditanya opini pria tentang wanita... ada yg bilang: cantik, tegar, pemalu tapi malu-maluin, berpikiran pendek, dll. Wah, ternyata mereka mikirnya gitu?

Ya, itulah indahnya dunia. Berbagai perspektif membuat kaya. Perbedaan membuat hidup makin hidup. Bukan jadi sarana benturan dan alasan perpecahan. Bener tidak?

Dan kesempurnaan Allah berikut ciptaannya justru tergambarkan paling kuat pada manusia, lelaki dan wanita. Diciptakan gender agar saling melengkapi bukan dipersamakan. Karena memang berbeda fungsionalitasnya satu sama lain. Makanya dengan pernikahan terbangun sinergi yang dahsyat. Seperti bisnis yang hebat karena pertemuan partner2 yang saling melengkapi. Bener tidak? Buktiin deh!

Gimana para feminis punya komentar? Hehehe


oy iya pak, saya pengikut setia training bapak lo. Dimulai dari interaktif (dinspes pajak -IMP), TRAIN 06 (UMMP), ATl 06 (BEM), raker BEM 06, launching ma'had trabiyah (MBM), TFt
bid. acara dinamika 06, dll sampai sekarang..


Wah, subhanallah.... Banyak gak di kampus yang seperti mbak ya? Kalo lumayan jumlahnya, kita bisa bikin perkumpulan nantinya, perkumpulan pembelajar. Supaya makin banyak yang meningkat kualitasnya. InsyaAllah Indonesia akan semakin cepat meninggalkan predikat keterbelakangannya jika semua warga negaranya berkemauan keras dan cinta pendidikan.

Kalo pengikut setia, duile.... Ntar saya jadi seleb repot lagi dikejar paparazzi hehehe.


Sebagai peserta setia tentunya banyak hal yang saya dapatkan berulang-ulang dari 1 training ke training lainnya. Entah itu berupa slide/ materi ataupun ice breaking2nya.... Tapi pada
TFT kli ini tampaknya banyak hal2 baru, more fresh...

Dalam training itu, banyak faktor penyebab kesuksesan. Di antaranya suasana hati trainer, kehangatan hubungan peserta dan fasilitator, suasana tempat, waktu, dll. Anggap aja kemarin itu, semua faktor sedang di titik optimum sehingga overall performance menjadi maksimum.

Alhamdulillah....

oh iya pak, sekalian bertanya niy, hm..lebih tepatnya konsultasi kali ya? Bapak pernah merasakan kejenuhan terhadap segala aktivitas di kampus gak?

Wah kalo jenuh saya sering banget... Puncaknya di tahun ketiga, saat akan lulus. Rasanya gak sanggup melakukan apapun. Sudah puncaknya jenuh. Tapi saya selalu yakin sejak dulu, bahwa kondisi itu tidak final. Hanya suatu pergiliran suasana. Dari semangat ke jenuh, gembira ke sedih, siang malam, panas dingin, so natural. Diterima aja perasaan tersebut dan upayakan tetap menjalani aktivitas walaupun terpaksa. Bukankah ketaatan itu dalam kondisi senang dan sulit? Kalo taat hanya sekedar di saat senang berarti hobi dong, iya khan.

entah mengapa rasanya saya benar2 di ti2k kejenuhan.... Padahal seharusnya saya bisa berkontribusi lebih.... Hmmm kenapa ya pak? Rasanya ingin lepas dari ikatan2 kegiatan di kampus dan ingin bebas beraktivitas sesuai dgn minat dan bakat....

Coba renungkan apakah kegiatan2 kampus itu berbenturan dengan cita2 pribadi? Kalo mendukung, so what? Keep going aja lah! Kalo belum ketemu benang merahnya (masa depan dan masa kini), coba cari lagi . Kalo gak dapat juga, ganti benang putih hehehe.

Saya yakin Allah SWT akan memberi momentum untuk mbak menguatkan lagi semangat juang yang dulu bergelora. Saya dulu menemukan momentum saat mukhayyam (mendaki) ke Gunung Halimun. Saat mendengar dan menyenandungkan syair:


Tiada kata rugi

Menapak jalan ini

Surga Allah

Menanti


Seketika berlelehan air mata, seiring dengan lahirnya kesadaran baru. Bangkit! Ayo bangkit! Dan songsonglah Surga! Lalu semangat saya berlipat-lipat dari sebelumnya.
Semangati terus diri. Yakin bisa. Jangan kalah oleh hawa nafsu. Kita khan prajurit-Nya. Pastilah akan dibantu-Nya.


kiranya cukup segitu pak, saya sudah lama di warnet. Udah malem niy, hehe.

Baik terima kasih banyak mbak. Semoga Allah memudahkan langkah2 kita menuju ridha-Nya.

Wassalam


Wa'alaikumussalam Warahmatullahi wabarakatuh


=*=

Semoga ada pelajaran yang kita petik dari dialog ringan ini ya sahabat semua....

Jakarta, Saat2 Akhir Ramadhan


Monday, October 01, 2007

Motivasi dan Hikmah Perjalanan ke Palembang

Saya diberi kesempatan oleh Allah swt untuk kembali mengunjungi Palembang Darussalam setelah hampir 2 bulan sejak kunjungan terakhir di tahun 2007 (bukan kunjungan tapi penempatan kerja sebenarnya....)

Adalah ACMY (Al Aqobah Creative Moslem Youth), Remaja Masjid PUSRI, yang mengundang saya dalam acara Pesantren Ramadhan yang berlangsung pada hari Sabtu, 29 September. Saya diminta menyampaikan materi motivasi untuk sukses kepada peserta yang bervariasi umurnya, 12 tahun sampai dengan 40 tahun (repot juga mengatur ritme trainingnya...). Dari pukul 09.45 (molor harusnya 08.45) sampai pukul 13.30 (dipotong sholat zhuhur tentunya) saya ber-teriak2 untuk membangunkan the sleeping giant alias raksasa-raksasa yang sedang "tertidur" karena tidak mengenal potensi diri mereka. Alhamdulillah acara berlangsung tuntas dan panitia mengaku puas.


Di-stop mendadak di UMP

Setelah selesai, saya dijadwalkan oleh manajemen TRUSTCO (lembaga tempat saya berkiprah) Palembang untuk melanjutkan acara ke UMP (Universitas Muhammadiyah Palembang) di Plaju. Karena alasan teknis kendaraan saya dan tim terlambat 45 menit dari waktu yang ditentukan. Panitia luar biasa penyambutannya sangat hangat. Saya mulai training dengan penuh semangat. Namun saya kaget sekali saat training berjalan selama 30 menit, seorang panitia menyampaikan secarik kertas bertuliskan "waktu tinggal 5 menit lagi". Tentu saja saya kaget karena saya sudah di-assign untuk mengisi selama 60-90 menit. Peserta juga protes... Tapi tentu saja walau mendongkol (lagi hangat2nya), saya patuh pada panitia yang mengundang saya hadir.

Saya penasaran dan bertanya kepada panitia apakah materi saya tidak sesuai dengan harapan mereka? Ternyata bukan itu alasannya. Mereka kuatir saya buka puasa di jalan kalau training sampai dengan 17.30. Padahal saya tidak mempermasalahkan hal tersebut, dan sayangnya panitia tidak membicarakannya dengan saya. Terasa betul saat itu, pentingnya berkomunikasi (sayang saya lupa menawari materi komunikasi efektif kepada panitia hehe). Saya keluar masjid (tempat training) dengan gontai dan duduk menunggu jemputan ACMY untuk buka puasa di masjid PUSRI. Saya menanti selama hampir 40 menit yang kalau saya meneruskan training UMP, pastilah sudah tuntas. Tapi ya sudahlah, sudah resiko jadi lelaki panggilan (hehehe).


Kultum Tarawih
Setelah dijemput dan buka di jalan (akhirnya buka di jalan juga khan?), saya diminta untuk menyampaikan kultum alias kuliah terserah antum (terserah tema dan waktunya hehehe) di masjid PUSRI ba'da Isya. Waduh, saya kaget juga karena belum nyiapin bahan. Alhamdulillah (banget), saya baru beli Eramuslim Digest edisi 2 tentang 911 yang ada tulisan ustadz Ihsan Tanjung (jazaakallah era muslim + ustadz!) mengenai pembabakan kepemimpinan Islam. Langsung saya pelajari dan rangkum dengan model Mind Mapping (peta pikiran). Dan sebagai motivator (kecil2an) saya menambahi beberapa tips untuk menyambut periode kepemimpinan yang kita tunggu-tunggu... Jadilah sebuah rencana kultum yang bersemangat (eng ing eng...).

Detik-detik menjelang kultum... Grogi juga karena sudah lamaaaaa sekale tidak tabligh (beda dengan training suasananya). Apalagi sebagian besar orang dewasa dan status sosialnya menengah atas (PUSRI khan topten BUMN). Tapi... bismillah! Saya pasti bisa!

Akhirnya.... Subhanallah. Hadirin sangat antusias, bahkan ibu-ibu yang biasanya gemar ngobrol tidak bergeming sedikitpun. Kultum yang biasanya maksimal 20 menit, tak terasa telah menembus menit ke-30 dan peserta masih menatap serius. Kultum saya itu dianggap baru dan menarik sekali. Pas lah dengan bakat sebagai motivator. Demikian tanggapan dan komentar yang disampaikan oleh panitia.... Alhamdulillahirabbil 'alamin.... Saya bersyukur sekali atas kemudahan dari Allah SWT....

Detail kultum nya saya bikin tulisan tersendiri insyaAllah ya... (semoga diberi kemudahan untuk mengingat kembali dan siap menuliskannya).


Diskusi Hangat dengan Kolonel AL

Setelah beberapa aktivitas lainnya di hari Sabtu dan Ahad tuntas, saya pulang ke Jakarta dengan Air Asia (yang delay 1 jam). Dan di dalam DAMRI, saya terlibat diskusi hangat dengan seorang bapak, yang belakangan mengaku sebagai perwira AL berpangkat kolonel (pangkat tertinggi militer kata beliau, kalo bintang pangkat kehormatan). Perbincangan kami cukup seru dengan topik kelautan (tentu saja), wacana pangkas satu generasi (beliau nulis buku tentang ini), Ambalat (hmmm... geram awak dengan malaysia), keislaman (salut juga sama perwira 'hijau' ini), dan keluarga.

Saya dapat banyak pelajaran penting dari diskusi 1 jam ini. Bahwa militer sekarang semakin Islami (beda dengan zaman LB Moerdani), wacana berpikirnya semakin lintas disiplin dan smart (tidak kaku). Apalagi saat beliau mengemukakan wacana potong generasi bahwa usia 30 tahun ke atas harus 'dibunuh' kalau ingin reformasi berhasil (maju sekali padahal saya saja pakai batas usianya 40 tahun ke atas). Supaya birokrasi jadi bersih. Saya doakan beliau jadi jenderal yang amanah dan konsisten nantinya.... Amien ya Allah.


Supir Taxi yang Mahasiswa UI

Setelah DAMRI tiba di Blok M, saya menggunakan taksi untuk pulang ke rumah. Kebetulan ada blue bird (biasanya saya prefer express karena lebih murah hehehe) yang melintas. Drivernya masih muda dan bicaranya ramah dan bersemangat. Dan ternyata, puncak hikmah perjalanan saya terjadi di dalam taksi dengan drivernya yang bernama Mawardi.

Menakjubkan mendengar penuturan Mawardi mengenai hidupnya. Mengaku dari keluarga miskin di Yogya, dan setelah sempat mengganggur setelah lulus SMA tahun 1999, ia akhirnya lulus SPMB 2003 di Fakultas Teknik UI jurusan Teknik Mesin. Dengan membawa uang Rp 40.000,- ia nekad ke Depok dan mengurus beasiswa keringanan biaya studi. Tanpa kiriman apapun dari ortunya yang petani, ia berusaha sekeras tenaga untuk bertahan hidup.

Awalnya ia kerja di Dunkin Donuts, namun tidak sanggup karena harus kerja shift yang tidak jelas pagi atau malam (bergantian). Akhirnya ia melamar menjadi supir taksi blue bird dan diterima. Ia narik mulai jam 2 siang sampai jam 2 siang lagi. Kalau ada perkuliahan ia stop jam 7 pagi. Ia ke kampus dengan taksi dan pulangnya terkadang mengankut teman atau dosennya. Yang luar biasanya ia masih mampu dapat IP 3,2, dapat beasiswa UI 2x, beasiswa bluebird 3x, punya bengkel motor kecil2an di kostnya, dan tahun depan jika lulus UI, ditawari jadi Kepala Mekanik oleh Dirut Blue Bird. Subhanallah... Ia juga tidak meninggalkan sholat, puasa, dan... Dhuha.

Terus terang saya terharu sekali, dan seketika meminta izin untuk memoto dirinya. Saya minta izin beliau agar kisahnya dapat saya sampaikan ke sebanyak mungkin orang sehingga dapat memberi inspirasi. Saya yang seusia dengannya (27 tahun) saja merasa kagum, apalagi anak2 dan pelajar yang lebih muda.

Luar biasa! Dengan segudang alasan untuk gagal dan nyaris tiada faktor pendukung sukses, Mawardi tidak mau menyerah pada nasibnya. Ia terus berjuang, berjuang, dan berjuang. Saya yakin, kalau beliau istiqomah, pastilah akan menjadi tokoh besar di masa depan.

Seketika terasa saya baru baca apa yang tertulis dalam Al Qur'an: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, melainkan kaum itu mau merubah nasibnya sendiri".

Sungguh perjalanan yang singkat, tapi sarat hikmah.
Rasanya, aku semakin jatuh hati pada-Mu ya Allah....


Jakarta, 1 Oktober 2007