Thursday, April 10, 2008

Jaulah ke Brunei Darussalam: Small Islamic Kingdom

Beberapa waktu yang lalu saya diizinkan oleh Allah swt untuk mengunjungi saudara jiran di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam.

Kesan pertama yang saya tangkap adalah sepi. Lalu lintas nya tidak ramai. Angkutan umum tidak terlihat. Pengendara motor jarang sekali terlihat. Dan memang, penduduknya di kota ini hanya 90 ribu orang. Pantas kalah jauh dengan 7-12 juta orang Jakarta....

Kesan kedua adalah sederhana. Sebelum ke sini saya bayangkan negeri ini penuh dengan bangunan megah karena ini negeri kaya. Ternyata bangunan yang ada sangat sederhana. Mungkin mirip kota Balikpapan ya? Sepertinya kebijakan negara ini tidak memprioritaskan pembangunan fisik semata. Pendidikan plus kesehatan murah dan berkualitas lebih diutamakan.

Kesan ketiga adalah tenang dan tertib. Terasa suasananya damai. Bahkan tidak kedengaran suara klakson atau knalpot yang memekakkan telinga. Pengendara mobil biasanya saling memberi kesempatan kepada pengendara lainnya saat berpapasan di perempatan. Dan saat pejalan kaki ingin menyeberang, mobil berhenti dan menyilakan orang untuk menyeberang.

Kesan keempat adalah negeri ini butuh banyak SDM. Saya bertemu dengan PNS Depag nya Brunei yang masih WNI. Beliau yang asli Aceh bekerja sudah hampir 12 tahun. Dan beliau memiliki cukup banyak kolega di birokrasi Brunei yang masih WNI. Coba kalo PNS Indonesia warga negara Singapore, wah seru ya? Dan total WNI sekitar 30 ribu orang dari total penduduk Brunei yang mencapai 400 ribu (sekitar 10%). Pantas gampang sekali ketemu dengan orang Padang, Palembang, Aceh, dan Jawa...

Kesan kelima adalah penduduk negeri ini cukup merata kemampuan ekonominya. Rata-rata memiliki rumah dan mobil sendiri. Wajar saja angkutan umum seperti bus atau taxi sangat susah dijumpai. Dan penduduknya sangat mencintai raja mereka, Sultan Hasanal Bolkiah, karena dinilai sangat peduli terhadap rakyatnya.

Kesan terakhir adalah simbol religius yang cukup menonjol. Rata-rata wanitanya memakai pakaian tradisional melayu dan berkerudung. Mesjid-mesjid dibangun dengan megah. Tulisan-tulisan di billboard yang berisi pesan-pesan keagamaan. Bahkan saat naik pesawat Royal Brunei, sebelum take off dilantunkan doa dalam bahasa Arab serta terdapat saluran suara murottal Al Quran.

Well, saya membayangkan memimpin Brunei yang relatif homogen (mayoritas melayu muslim) dengan jumlah penduduk di bawah setengah juta orang tidak seberat mengelola Jakarta apalagi Indonesia Raya dengan 230 juta jiwa lebih yang terdiri atas ratusan suku bangsa.

Intinya, setelah mengunjungi Brunei, saya semakin bersyukur dilahirkan di Nusantara. Negeri dengan sejuta barokah dari Ilahi. Dan bersyukur memiliki negara-negara tetangga seperti Brunei dan Malaysia. Dan untuk menunjukkan rasa syukur itu, saya bertekad berusaha memberikan yang terbaik yang saya bisa kepada sekeliling saya semampu saya.

Saya juga berdoa agar Allah memberikan kesempatan agar saya bisa melakukan perjalanan menjelajahi bumi-Nya mencari hikmah yang bermanfaat bagi kita semua. Amien ya rabbal 'alamien

0 komentar:

Post a Comment