Miris. Kecewa. Malu. Itu yang aku rasakan saat menyaksikan liputan televisi Al Jazeera beberapa hari yang lalu. Betapa tidak. Yang tersaji dalam berita yang disiarkan secara internasional itu adalah tayangan tentang puluhan pemulung di Bantargebang, Bekasi. Mereka berjibaku mencari nafkah di atas gunungan sampah dengan resiko terluka akibat hantaman traktor atau tergilas roda truk. Terlihat juga anak-anak berpakaian seragam sekolah di antara traktor pengeruk sampah.Di saat yang bersamaan di stasiun televisi yang lainnya diungkap tentang kesuksesan negara-negara tetangga Indonesia. Sebut saja sajian Capital Malaysia yang menceritakan tentang rahasia Malaysia membangun ekonominya dan beralih dari negara agraris menjadi industrialis. Atau tentang Singapura yang kini sukses menjadi negara terdepan dalam sektor jasa.
Apakah anda bisa membayangkan betapa hancur rasanya ditampar dengan potret kemiskinan yang kian massif. Diekspos setiap saat. Menjadi konsumsi internasional. Namun di saat yang sama, masyarakat dunia juga mengetahui bahwa pemilik apartemen Singapura mayoritas adalah WNI. Daftar orang terkaya di Asia juga banyak diisi para pengusaha nusantara. Salah satu pasar terbesar mobil mewah dengan harga miliaran rupiah di asia adalah negeri tercinta. Pemilik terbanyak handphone canggih seperti nokia communicator adalah penduduk Indonesia.
Mereka, masyarakat dunia, juga sadar bahwa di saat Indonesia terpuruk dalam kemiskinan 40% penduduknya (sekitar 100 juta orang!) banyak pejabat kepala daerah yang punya anggaran jas puluhan juta rupiah. Berlomba-lomba membeli mobil ratusan juta rupiah. Sibuk membangun rumah dinas seperti istana raja-raja miliaran rupiah. Menganggarkan pembinaan sepak bola puluhan miliar rupiah. Belum lagi anggaran jalan-jalan ke luar negeri. Namun menyisakan hanya sekian juta rupiah untuk anggaran sosial. Beberapa rupiah untuk mendukung para pengusaha ekonomi lemah.
Apakah potret kemiskinan seperti ini yang akan kita wariskan kepada anak cucu kita nanti? Apakah potret ini yang akan kita laporkan kepada para founding fathers bapak negara kita?
Mari bersama-sama kita jawab, saudaraku....


3 komentar:
Saya rasa semua sepakat untuk menjawab TIDAK untuk mewariskan potret muram negeri kita ini. Persoalannya adalah mari kita mulai membenahi landscape dan portrait negeri kita ini mulai dari sekarang, dari diri kita sendiri, dan mulai dari hal yang kecil. Kita membutuhkan orang-orang yang mampu menggerakan perubahan tidak hanya untuk diri dan kelompoknya sendiri.
Tulisannya bagus Pak, (Pandu Rizky)
Ya mas pandu... pelan2 kita mulai.
btw, blognya oke tuh. ditingkatkan terus mas!
Sepertinya urat malu negeri ini sudah putus, sehingga tidak malu lagi melihat rakyatnya yang hidup miskin dan bodoh (tidak mengenyam pendidikan).
Post a Comment