Saturday, February 02, 2008

Indonesia : Apa dan Bagaimana?


Dalam ilmu manajemen kita mempelajari bahwa perencanaan yang baik merupakan 50% dari pencapaian sukses. Sebaliknya, jika kita gagal dalam merencanakan sesuatu berarti itu sama dengan merencanakan kegagalan.

Contoh yang sangat sederhana dalam kehidupan sehari-hari saja. Jika kita ingin melakukan sesuatu kita harus melakukan perencanaan. Dimulai dari tujuan kita. Misalnya kita ingin pergi ke Yogyakarta misalnya, maka kita harus membuat perencanaan. Kita harus memutuskan akan tiba jam berapa di sana, pagi, siang, atau malam. Mau berangkat dengan apa ke sana, dengan siapa, berapa biaya yang dikeluarkan untuk itu. Lalu kita pun berangkat dan besar kemungkinan kita tiba dengan selamat, InsyaAllah.

Akan berbeda hasilnya jika kita tidak tahu harus kemana kita pergi. Tapi kita ingin pergi. Yang penting pergi. Atau kita sudah memutuskan ingin ke Yogyakarta. namun mau dengan apa, dengan siapa, kapan tiba di tempat tujuan bukan hal penting bagi kita. Pokoknya, kita harus kelihatan pergi dari rumah. Sampai dimana nanti, bagaimana keadaan kita nanti, ya bagaimana nanti saja. Yang penting orang melihat kita sedang melakukan perjalanan. Maka hasilnya, tidak ada yang tahu. Mungkin tiba di Yogya, di Bali, di RS, atau di kantor polisi. Apakah ada kemungkinan tiba dengan selamat? Pasti ada tapi dengan tingkat kepastian yang kecil.

Perencanaan Indonesia
Bagaimana menurut kawan-kawan bagaimana cara kita mengelola bangsa besar ini? Apakah anda tahu seperti apa Indonesia pada 10, 20, 50, 100 tahun ke depan? Apakah semboyan "menuju masyarakat adil makmur sejahtera" telah kita terjemahkan menjadi langkah kongkret atau hanya menjadi slogan tanpa makna buat kita? Lalu bagaimana cara mencapai tujuan tersebut, jika memang ada, walaupun presiden selalu berganti? Dengan sumber daya yang terbatas, apa prioritas utama untuk mencapai tujuan tersebut secepat-cepatnya?

Saya sebagai warganegara Indonesia, tidak tahu apa gambaran Indonesia ke depan. Apa warnanya, rupanya, wujudnya. Kalau anda tahu, mohon beritahu saya. Kalau rumah tangga, organisasi, dan perusahaan saja punya gambaran besar tujuan mereka apalagi sebuah negara besar seperti Indonesia.

Namun, saya tidak ingin menyalahkan siapa-siapa. Tidak ingin meminta siapapun bertanggung jawab. Karena saya sendiri, sebagai unit terkecil bangsa ini, sebagai hambaNya yang ditakdirkan lahir dan hidup di bumi pilihanNya ini, yang harus bertanggung jawab. Bertanggung jawab untuk memikirkan kebaikan apa yang bisa saya sumbangkan untuk Indonesia, Zamrud Khatulistiwa. Negeri dengan lebih dari 17.000 pulau, dengan lebih dari 600 etnis dan suku bangsa. Bangsa besar dan insyaAllah akan semakin besar kontribusinya bagi peradaban dunia.

Ya Allah, berikan hamba kekuatan untuk ikut menyumbangkan pemikiran dari akal yang Engkau karuniakan padaku. Sedikit sedikit, semoga bermanfaat. Minimal pada diri hamba sendiri agar semakin bersyukur kepada-Mu.

Dalam perenungan, Kuala Lumpur

2 komentar:

Andhi said...

Luar biasa. Lagi-lagi saya hanya bisa berandai-andai.
Seandainya sebagian besar orang Indonesia berpikiran seperti seorang Irwanda Wisnu...
Seandainya kita punya pemimpin bertangan besi seperti Umar...
Seandainya kita punya wakil rakyat yang selalu komit memihak rakyat...
Seandainya...

Waiting for Life in The Digital Dimension said...

Iya tuh, Menpan mencla-mencle, ga punya perencanaan. Masa cuti bersama dibatalin mendadak banget kaya gini.
Gimana yang udah terlanjur punya jadwal liburan? Gimana yang udah terlanjur beli tiket. Gimana yang udah nyusun acara keluarga? Bagi pihak swasta, gimana kalo udah terlanjur ada janji sama klien atau yang udah terlanjur ngebatalin order?
OK lah kalo cuti bersama dibatalin saya setuju, karena memang kebanyakan jumlahnya. Tapi bukan yang tgl 8 Februari, terlalu mepet. Kalo alasan untuk produktivitas, kenapa yang tgl 18 Agustus tetep libur. Padahal hari besar bukan, hari raya bukan, hari kejepit juga bukan. Paling-2 tuh menpan ga mau ikut upacara, jadi dibikin aja libur.

Post a Comment