Friday, February 08, 2008

Belajar untuk Bermimpi

Semuanya berawal dari mimpi....

Apa penyebab kemajuan umat manusia? Apa yang melatarbelakangi ribuan penemuan teknologi? Apa yang merangsang hasrat manusia untuk melakukan perubahan? Menjawab hal ini, Einstein mengatakan: "imagination is more important than knowledge". Artinya, imaginasi, impian, dan harapan kita jauh lebih bernilai dari capaian penemuan yang kita dapatkan. Dengan impian, maka penemuan manusia tidak akan pernah berhenti. Pengetahuan tidak akan pernah stagnan. Karena impian menjadi stimulan untuk bergerak dan bertindak.

Seperti mana di bangku sekolah kita bermimpi untuk memiliki pekerjaan yang layak, membangun keluarga harmonis, tinggal di sebuah rumah yang nyaman, dan akhirnya kita dapatkan beberapa saat kemudian. Seperti mana segenap bangsa kita bermimpi untuk merdeka selama lebih dari 300 tahun yang akhirnya kita peroleh pada 17 Agustus 1945. Artinya, apapun impian kita saat ini insyaAllah ia akan terwujud, cepat atau lambat. Believe me that the dream will comes true.

Mimpi kemarin kenyataan hari ini dan mimpi sekarang adalah kehidupan esok....

Coba lihat pesawat terbang. Mengapa ia bisa hadir saat ini? Sebabnya adalah dari dulu nenek moyang kita selalu bermimpi agar bisa terbang seperti burung di angkasa. Bisa melihat dunia dari langit. Bisa berpindah tempat dengan cepat. Maka mereka membuat sayap buatan dan naik ke atas bukit lalu mengepakkan sayap agar bisa terbang. Sebagian cedera, sebagian mati. Sampai akhirnya, happy ending. Ditemukanlah pesawat yang terus menerus di-upgrade dari semula pesawat baling-baling sampai menjadi jet super bahkan pesawat luar angkasa. Sehingga tiada lagi batas perjalanan, mengelilingi dunia bahkan menjelajah alam semesta. Sekarang, everyone can fly! Kita berhutang kepada nenek moyang kita. Berhutang karena mimpi merekalah, kita menikmati semuanya sekarang.

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk memberi respek pada mereka? Untuk menghormati jasa para pahlawan kemanusiaan? Apakah dengan membuat kuburan dan patung megah? Apakah dengan memberi gelar pahlawan dan sederet tanda jasa? Atau dengan menyebut-nyebut selalu jasa mereka di buku-buku sejarah? Ya, kita bisa memilih untuk melakukan itu semua untuk menghormati mereka. Namun ada cara terbaik untuk memperlihatkan respek sejati, menunjukkan penghargaan tertinggi kepada mereka semua yaitu dengan meneruskan cita dan impian mereka. Dengan tetap bermimpi. Impian yang lebih besar, lebih jauh, lebih hebat dari semua impian mereka. Impian yang menjadi kehidupan bagi anak cucu kita sebagaimana warisan mereka kepada kita semua hari ini. Itulah cara terbaik menghormati para pahlawan kita.

Dengan kata lain, jika pahlawan kemerdekaan dulu bermimpi memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dan mereka berhasil, maka kini kita juga harus memiliki mimpi sekurang-kurangnya untuk melenyapkan segala masalah yang menghalangi rakyat Indonesia dari menikmati kemerdekaan itu sendiri yang antara lain kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Sehingga nantinya kita wariskan Indonesia dalam wajah yang maju, beradab, dan terpandang kepada anak cucu kita.

Breaking the limitation....

Bagaimana mungkin kita bisa bermimpi dalam segala keterbatasan kita? Bermimpi dalam kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan seperti sekarang? Apa bisa? Apa mungkin bermimpi bahwa Indonesia menjadi negara besar dalam kondisi ibukotanya menjadi langganan banjir seperti sekarang? Dengan kondisi korupsi yang parah, tatanan sosial yang berantakan, ketidakpastian hukum, ancaman disintegrasi, dan keruntuhan moral serta berbagai problem besar lainnya. Bagaimana mungkin?

Tentu mungkin. Semua perubahan dimulai dalam kondisi ketidakpastian, kegoncangan dan keruntuhan. Seperti turunnya risalah kenabian pada masyarakat jahiliyah. Seperti kemerdekaan bangsa dalam penjajahan yang akut. Namun ada satu syarat utama yang membuat perubahan itu menjadi mungkin terwujud, yaitu impian yang kuat. Impian yang bersemanyam di dada dan senantiasa bergelora. Yang mendobrak segala keterbatasan. Yang melampaui semua kelemahan. Yang meniadakan ketidakmampuan. Breaking the limitation! Hancurkan segala halangan dengan impianmu!

Seperti perkembangan agama Islam. Berawal dari seorang nabi yang ummy, dari satu orang yang sendirian. Saat setiap pengikutnya ditindas di tanah kelahirannya sendiri, impiannya adalah kunci pintu kerajaan Romawi dan Persia. Tak berapa lama setelahnya, sejarah mencatat dua negara adikuasa tersebut jatuh kedalam pelukan Islam. Kini Islam tumbuh menjadi agama dengan penganut lebih dari 1 miliar manusia hanya dalam waktu 14 abad. Dan semakin pesat pertumbuhannya di setiap sudut dunia. Karena impian Nabi Saw yang lainnya adalah agar umatnya menjadi umat terbesar dan dibangga-banggakan di Hari Kemudian. Dari nothing menjadi something, dari nobody menjadi somebody. Berawal dari impian yang melampaui keterbatasan, impian yang dilatarbelakangi keyakinan.

Banyak lagi contoh, kisah nyata, dan pelajaran berharga yang bisa kita rujuk agar kita tidak mudah menyerah. Tidak gampang putus asa. Tidak cepat letih. Bukan saja dalam kerja, tindak dan amal kita, namun dalam membangun cita dan impian. Merancang visi. Membingkai harapan. Jangan pernah sekalipun kita mundur dari impian besar kita. Karena tidak ada impian yang mustahil. Yang ada hanyalah waktu yang terlalu singkat untuk mencapainya. Jadi, bermimpilah untuk diri sendiri, untuk keluarga, dan tentu saja untuk Indonesia.

Bermimpilah selagi mimpi itu masih gratis....

Bermimpilah dengan titik tolak bahwa kita mampu mencapai apapun yang kita inginkan. Bermimpilah sekarang. Bermimpilah selagi mimpi itu masih gratis. Karena saya khawatir, suatu masa kita harus membayar pajak atas rumah yang kita impikan. Kita harus membayar harga atas sebuah impian. Maka bergegaslah, saat ini juga, bermimpilah. Apa saja. Tuliskan impian tersebut. Keinginan anda apa adanya. Segera, selagi semua mimpi itu masih gratis.

2 komentar:

rizky said...

Membaca Breaking the limitation, hancurkan penghalang dengan kekuatan mimpimu jadi inget buku yg pernah saya baca. Di situ dituliskan kata-kata "Aku tidak peduli dengan keterbatasanku, selama aku yakin belum mencapai batasanku maka keterbatasan itu sendiri tidak pernah ada... Btw 2030 cita2 Pak Wisnu maju sebagai RI-1 ya? hehehe

Arizal said...

Mimpi Kita Harus Kuat.......

Post a Comment