Friday, November 02, 2007

Wajib Militer, Boleh Asalkan....

Wacana wajib militer mencuat lagi setelah Departemen Pertahanan meluncurkan draft Rancangan Undang-Undang Komponen Cadangan. Isi pokok dari draft RUU tersebut adalah wewenang TNI untuk merekrut dan memobilisasi masyarakat sipil sebagai kekuatan perlawanan fisik bersenjata (kombatan) dalam menghadapi ancaman militer, bersama dengan TNI sebagai Komponen Utama.

Ya berarti ada penerapan wajib militer. Nantinya penduduk usia 18 sampai 45 tahun harus mengikuti wamil tanpa kecuali. Pegawai swasta atau PNS sama aja. Hayooo, siap-siap dari sekarang....

Tentu saja ide ini mengundang pro dan kontra di masyarakat. Lebih baik rame saat menyusun daripada ributnya setelah jadi UU. Bisa berabe khan kalo menolak wajib militer alias wamil. Oleh karena itu, mari kita berikan masukan2 kita sebagai warga negara. Sampaikan walaupun hanya satu ayat (hehehe) lewat blog lagi....

Pengalaman ku sewaktu di pramuka saka bhayangkara (kerjasama dgn POLRI) dan sewaktu diklat samapta di bea cukai (kerjasama dgn TNI AD) ternyata model pendidikan militer tidak jelek semua. Kedisiplinan, kesigapan, patriotisme, semangat team work, dll bisa kita dapatkan. Pengetahuan senjata dan menembak juga sangat penting buat kita. Malah dalam Islam khan disunnahkan untuk menguasai ilmu memanah.

Tetapi pendidikan kemiliteran yang diteruskan menjadi wajib militer (wamil) harus disikapi dengan cermat antara lain:

1. Pengawasan anggarannya (biayanya sangat besar, harus diawasi ketat)
2. Prioritas usia (18-30 tahun, 45 tahun khan usia pensiun tamtama dan bintara?)
3. Asuransi jiwa dan kesehatan (resiko tinggi)
4. Jaminan bahwa tidak ada pengecualian (anak konglomerat bisa bayar spy gak ikut)
5. Pendataan rapi thd eks wamil (keahlian selama pendidikan bisa dijadikan modal untuk merampok misalnya)
6. Wamil untuk ancaman eksternal dan bencana alam (bukan utk membunuh anak2 bangsa)
7. Tolong dicatat bahwa dalam perang kualitas juga penting selain kuantitas. So, beli terus peralatan perang yang canggih (Yang bisa menggetarkan mereka yang mau macam2 dengan kita)

Demikian masukan ku. Semoga wamil yang proporsional bisa menumbuhkan semangat baru, generasi baru, SDM baru, menuju Indonesia yang lebih baik.

Bravo!


Gimana teman2 yang lain, do you have other ideas?
Let's share them!

8 komentar:

dewi said...

Well, makin rajin nulis aja bro! :) Tulisannya juga makin bagus... he..he..

Irwanda Wisnu Wardhana said...

hehehehe tks ya

inspirasi by dewi kok

just111 said...

Harusnya Dephan perbaiki dulu tuh internal TNI. Perkuat dulu angkatan laut kita, lha wong kita negara kepulauan kok angkatan lautnya malah dinomorduakan drpd angkatan darat.

Jangan-jangan dengan wamil malah nantinya banyak preman terlatih...

Irwanda Wisnu Wardhana said...

bisa juga dsih banyak premana...

but, maybe yes maybe no hahaha

mas.falih said...

kalo mau uji coba wamilnya terbatas aja, misal: anak2 muda yg bermasalah secara hukum diwamilkan aja sebagai hukuman, trus habis itu dikirim jagain kepulauan terluar di Indonesia, he he he

Irwanda Wisnu Wardhana said...

ya setuju buat mas falih...

spy makin cinta tanah air gtu.
dan gak bikin masalah lagi

Anonymous said...

Hidup wamil...!!!Biar pemuda kita nggak loyo...!!!

mrioo said...

wah boleh juga tuh usulnya Mas Wisnu...
salam u bunga sakura nya..

Post a Comment