Friday, October 05, 2007

Motivasi Menjadi Pahlawan


Melihat bangsa yang sedang sakit membuatku frustasi.

Anak-anak balita berjejer di perempatan, tanpa alas kaki. Baju robek dan kumal. Remaja belasan tahun, di jam sekolah, mengamen dan menjajakan koran. Mereka lelaki dan perempuan berbaur dan hidup di jalanan, tanpa norma.

Mobil berderet panjang, ditingkahi dengan motor yang merayap. Saling salip, saling terjang.
Di perempatan yang penuh sesak, hukum tak lagi tegak.
Lampu lalu lintas hanya ditatap sesaat kemudian tak berarti apapun.
Semua sibuk, semua acuh, semua abai. Jalanan tanpa norma.

Banyak lagi masalah silih berganti, yang lebih besar dan lebih kompleks.
Namun dari masalah yang kita lihat di jalanan setiap hari... Terungkap dengan vulgar siapa kita sebenarnya. Bangsa seperti apa kita sebenarnya.

Melihat bangsa yang sedang sakit membuatku frustasi, awalnya demikian.

Sampai aku tersadar dengan kisah para pahlawan.
Bahwa pahlawan itu ada di saat kacau. Di saat bencana. Di saat kebobrokan. Di saat kehancuran di depan mata.

Bahwa pahlawan diciptakan oleh kesempatan. Bahwa pahlawan dimunculkan oleh momentum. Bahwa pahlawan dihadirkan oleh peluang. Bahwa pahlawan diharapkan karena sedang dinantikan.

Namun yang menjadi pahlawan sejati hanyalah dia yang mempersiapkan diri.
Pahlawanlah yang memiliki visi jauh hari sebelum yang lain melihatnya.
Pahlawanlah yang tahu sebelum sesuatu itu terjadi.
Pahlawanlah yang meraba dalam gelap saat semuanya terdiam.
Pahlawanlah yang menyalakan lilin saat semuanya mengutuki kegelapan.

Melihat bangsa yang sedang sakit tidak lagi membuatku frustasi.

Dalam bangsa yang sakit aku melihat peluang.
Ada pahala dalam amal.
Ada keberkahan dalam langkah.
Ada pengampunan dalam gerak.
Ada tiket keabadian dalam lelah.

Melihat bangsa yang sedang sakit membuatku lahir kembali....

Alhamdulillah, Allah yang sangat aku cintai telah membuka mata hatiku.
Bahwa inilah saat bagiku untuk meraih piala kepahlawanan.
Bahwa inilah masa yang dinantikan para pejuang kebenaran.
Bahwa inilah momen yang membahagiakan para pencari keabadian.

Melihat bangsa yang sedang sakit membuatku bersemangat!

Bismillahirrahmanirrahim..
Ya Allah, hambaMu ini bertekad....
Bahwa inilah saat untuk mengabdi padaMu.
Bahwa inilah rahasia takdir Engkau lahirkan aku di bumi yang bernama Indonesia.
Bahwa inilah panggilanMu bagi prajurit pilihanMu.

Sekaranglah saatnya, atau tidak sama sekali.

Kuatkan hamba ya Allah....
Menjadi pahlawan yang dinanti-nanti.
Agar hamba dapat terlahir kembali...
Dalam JannahMu yang abadi


(dalam renungan pembaharuan jiwa, palembang 21 march 2007)

6 komentar:

Zainurie said...

siapapun itu, ketika orang telah mampu membuat suatu perubahan ke arah yang lebih baik, layaklah kita sebut dia pahlawan, paling tidak kita adalah pahlawan untuk diri kita sendiri, di saat kita mampu berbuat lebih baik dari yang pernah terjadi, salam kenal juga ya?...

Irwanda Wisnu Wardhana said...

persis mas zain!
Paling tidak seorang pahlawan selalu berorientasi "apa manfaatku bagi orang lain?".

Btw, saya sudah add mas zain di link ku. Sy cek masih kosong ya blog nya? ditunggu curahan2 hati mas zain menjadi Sang Pahlawan.

Salam hangat

dewi said...

assalamu'alaikumwarahmatullahowabarakatuh

Pahlawan...

well, membaca uraian di Awal.. saya jadi teringat dengan sayap Bolshevik dalam tubuh partai buruh demokrat Russia yang dipimpin Oleh Lenin dan diwariskan pada Stallin.

orientasi Lenin dan kaumnya pada mulanya adalah ingin mengangkat kaum buruh, menjauhkan pnindasan, membrantas kemiskinan dan lainnya.. hal-hal heroik yang lahir secara manusiawi melihat ketidakmanusiawian yang terjadi saat itu.

namun, ketika partai mereka menang dan menguasai Russia, ternyata kekuasaan Lenin malah lebih diktator dari pada penguasa sebelumnya. well, lagi2 rakyat tak memiliki tempat berpijak dari 'pahlawan' yang dahulu mereka usung..

saya tidak ingin menyamakan artikel bro dengan si'Lenin dan Stalin'. karena jelas landasannya pasti berbeda. tentunya karena kita seorang muslim.

seperti yang bro katakan, bahwa hal ini adalah ladang amal... kesempatan untuk memberikan manfaat..

yang harus selalu diingat adalah Iman dan Istiaqomah sebagaimana yang tertulis dalam hadits Arba'in ke 21. Iman dan Istiqomah yang berbanding lurus. hal inilah yang akan membedakan proses dan tujuan akhir dari nilai 'kepahlawanan' ini.

jalan orang-orang yang fujur (fujuroha) seperti golongan Lenin dan Stallin ataukah jalan orang2 yang bertaqwa seperti Rosulullah dan para shahabatnya...

Salam hangat penuh persaudaraan
Semoga hari ini penuh hikmah
semoga Allah senantiasa memudahkan langkah-langkah kita menujuNya

Best Regard,


Taqiya Asywaq

Irwanda Wisnu Wardhana said...

wah luar biasa nih emang bu julita...
langsung nyambung aja ama history lesson. Internaional lagi...

anyway, semoga kita diberi kekuatan dan ke-istiqomah-ann untuk senantiasa bersikap menjadi pahlawan. Amien...

Bravo!

Emha Mz said...

assalamualaikum wr wb
menarik sekali membaca tentang kepahlawanan
tapi nurut saya untuk saat ini adalah sangat bijak apabila kita memulai dari diri kita berbuat kebajikan, sebelum berbuat untuk orang lain.
insya allah, jika semua komponen bangsa memulai berbuat baik untuk diri sendiri maka bangsa ini perlahan menuju perbaikan dan kesembuhan.
Keberhasilan tidak akan tercapai hanya dengan KATA - KATA tetapi harus diikuti dengan PERBUATAN.

Irwanda Wisnu Wardhana said...

persis mas emha mz!

itulah ibda' bi nafsika....
memeulai dari diri sendiri.

Semoga kita bisa ya..
3M (aa gym)
Mulai dari diri sendiri
Mulai saat ini
Mulai dari yang kecil

bravo!

Post a Comment