Monday, October 01, 2007

Motivasi dan Hikmah Perjalanan ke Palembang

Saya diberi kesempatan oleh Allah swt untuk kembali mengunjungi Palembang Darussalam setelah hampir 2 bulan sejak kunjungan terakhir di tahun 2007 (bukan kunjungan tapi penempatan kerja sebenarnya....)

Adalah ACMY (Al Aqobah Creative Moslem Youth), Remaja Masjid PUSRI, yang mengundang saya dalam acara Pesantren Ramadhan yang berlangsung pada hari Sabtu, 29 September. Saya diminta menyampaikan materi motivasi untuk sukses kepada peserta yang bervariasi umurnya, 12 tahun sampai dengan 40 tahun (repot juga mengatur ritme trainingnya...). Dari pukul 09.45 (molor harusnya 08.45) sampai pukul 13.30 (dipotong sholat zhuhur tentunya) saya ber-teriak2 untuk membangunkan the sleeping giant alias raksasa-raksasa yang sedang "tertidur" karena tidak mengenal potensi diri mereka. Alhamdulillah acara berlangsung tuntas dan panitia mengaku puas.


Di-stop mendadak di UMP

Setelah selesai, saya dijadwalkan oleh manajemen TRUSTCO (lembaga tempat saya berkiprah) Palembang untuk melanjutkan acara ke UMP (Universitas Muhammadiyah Palembang) di Plaju. Karena alasan teknis kendaraan saya dan tim terlambat 45 menit dari waktu yang ditentukan. Panitia luar biasa penyambutannya sangat hangat. Saya mulai training dengan penuh semangat. Namun saya kaget sekali saat training berjalan selama 30 menit, seorang panitia menyampaikan secarik kertas bertuliskan "waktu tinggal 5 menit lagi". Tentu saja saya kaget karena saya sudah di-assign untuk mengisi selama 60-90 menit. Peserta juga protes... Tapi tentu saja walau mendongkol (lagi hangat2nya), saya patuh pada panitia yang mengundang saya hadir.

Saya penasaran dan bertanya kepada panitia apakah materi saya tidak sesuai dengan harapan mereka? Ternyata bukan itu alasannya. Mereka kuatir saya buka puasa di jalan kalau training sampai dengan 17.30. Padahal saya tidak mempermasalahkan hal tersebut, dan sayangnya panitia tidak membicarakannya dengan saya. Terasa betul saat itu, pentingnya berkomunikasi (sayang saya lupa menawari materi komunikasi efektif kepada panitia hehe). Saya keluar masjid (tempat training) dengan gontai dan duduk menunggu jemputan ACMY untuk buka puasa di masjid PUSRI. Saya menanti selama hampir 40 menit yang kalau saya meneruskan training UMP, pastilah sudah tuntas. Tapi ya sudahlah, sudah resiko jadi lelaki panggilan (hehehe).


Kultum Tarawih
Setelah dijemput dan buka di jalan (akhirnya buka di jalan juga khan?), saya diminta untuk menyampaikan kultum alias kuliah terserah antum (terserah tema dan waktunya hehehe) di masjid PUSRI ba'da Isya. Waduh, saya kaget juga karena belum nyiapin bahan. Alhamdulillah (banget), saya baru beli Eramuslim Digest edisi 2 tentang 911 yang ada tulisan ustadz Ihsan Tanjung (jazaakallah era muslim + ustadz!) mengenai pembabakan kepemimpinan Islam. Langsung saya pelajari dan rangkum dengan model Mind Mapping (peta pikiran). Dan sebagai motivator (kecil2an) saya menambahi beberapa tips untuk menyambut periode kepemimpinan yang kita tunggu-tunggu... Jadilah sebuah rencana kultum yang bersemangat (eng ing eng...).

Detik-detik menjelang kultum... Grogi juga karena sudah lamaaaaa sekale tidak tabligh (beda dengan training suasananya). Apalagi sebagian besar orang dewasa dan status sosialnya menengah atas (PUSRI khan topten BUMN). Tapi... bismillah! Saya pasti bisa!

Akhirnya.... Subhanallah. Hadirin sangat antusias, bahkan ibu-ibu yang biasanya gemar ngobrol tidak bergeming sedikitpun. Kultum yang biasanya maksimal 20 menit, tak terasa telah menembus menit ke-30 dan peserta masih menatap serius. Kultum saya itu dianggap baru dan menarik sekali. Pas lah dengan bakat sebagai motivator. Demikian tanggapan dan komentar yang disampaikan oleh panitia.... Alhamdulillahirabbil 'alamin.... Saya bersyukur sekali atas kemudahan dari Allah SWT....

Detail kultum nya saya bikin tulisan tersendiri insyaAllah ya... (semoga diberi kemudahan untuk mengingat kembali dan siap menuliskannya).


Diskusi Hangat dengan Kolonel AL

Setelah beberapa aktivitas lainnya di hari Sabtu dan Ahad tuntas, saya pulang ke Jakarta dengan Air Asia (yang delay 1 jam). Dan di dalam DAMRI, saya terlibat diskusi hangat dengan seorang bapak, yang belakangan mengaku sebagai perwira AL berpangkat kolonel (pangkat tertinggi militer kata beliau, kalo bintang pangkat kehormatan). Perbincangan kami cukup seru dengan topik kelautan (tentu saja), wacana pangkas satu generasi (beliau nulis buku tentang ini), Ambalat (hmmm... geram awak dengan malaysia), keislaman (salut juga sama perwira 'hijau' ini), dan keluarga.

Saya dapat banyak pelajaran penting dari diskusi 1 jam ini. Bahwa militer sekarang semakin Islami (beda dengan zaman LB Moerdani), wacana berpikirnya semakin lintas disiplin dan smart (tidak kaku). Apalagi saat beliau mengemukakan wacana potong generasi bahwa usia 30 tahun ke atas harus 'dibunuh' kalau ingin reformasi berhasil (maju sekali padahal saya saja pakai batas usianya 40 tahun ke atas). Supaya birokrasi jadi bersih. Saya doakan beliau jadi jenderal yang amanah dan konsisten nantinya.... Amien ya Allah.


Supir Taxi yang Mahasiswa UI

Setelah DAMRI tiba di Blok M, saya menggunakan taksi untuk pulang ke rumah. Kebetulan ada blue bird (biasanya saya prefer express karena lebih murah hehehe) yang melintas. Drivernya masih muda dan bicaranya ramah dan bersemangat. Dan ternyata, puncak hikmah perjalanan saya terjadi di dalam taksi dengan drivernya yang bernama Mawardi.

Menakjubkan mendengar penuturan Mawardi mengenai hidupnya. Mengaku dari keluarga miskin di Yogya, dan setelah sempat mengganggur setelah lulus SMA tahun 1999, ia akhirnya lulus SPMB 2003 di Fakultas Teknik UI jurusan Teknik Mesin. Dengan membawa uang Rp 40.000,- ia nekad ke Depok dan mengurus beasiswa keringanan biaya studi. Tanpa kiriman apapun dari ortunya yang petani, ia berusaha sekeras tenaga untuk bertahan hidup.

Awalnya ia kerja di Dunkin Donuts, namun tidak sanggup karena harus kerja shift yang tidak jelas pagi atau malam (bergantian). Akhirnya ia melamar menjadi supir taksi blue bird dan diterima. Ia narik mulai jam 2 siang sampai jam 2 siang lagi. Kalau ada perkuliahan ia stop jam 7 pagi. Ia ke kampus dengan taksi dan pulangnya terkadang mengankut teman atau dosennya. Yang luar biasanya ia masih mampu dapat IP 3,2, dapat beasiswa UI 2x, beasiswa bluebird 3x, punya bengkel motor kecil2an di kostnya, dan tahun depan jika lulus UI, ditawari jadi Kepala Mekanik oleh Dirut Blue Bird. Subhanallah... Ia juga tidak meninggalkan sholat, puasa, dan... Dhuha.

Terus terang saya terharu sekali, dan seketika meminta izin untuk memoto dirinya. Saya minta izin beliau agar kisahnya dapat saya sampaikan ke sebanyak mungkin orang sehingga dapat memberi inspirasi. Saya yang seusia dengannya (27 tahun) saja merasa kagum, apalagi anak2 dan pelajar yang lebih muda.

Luar biasa! Dengan segudang alasan untuk gagal dan nyaris tiada faktor pendukung sukses, Mawardi tidak mau menyerah pada nasibnya. Ia terus berjuang, berjuang, dan berjuang. Saya yakin, kalau beliau istiqomah, pastilah akan menjadi tokoh besar di masa depan.

Seketika terasa saya baru baca apa yang tertulis dalam Al Qur'an: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, melainkan kaum itu mau merubah nasibnya sendiri".

Sungguh perjalanan yang singkat, tapi sarat hikmah.
Rasanya, aku semakin jatuh hati pada-Mu ya Allah....


Jakarta, 1 Oktober 2007



7 komentar:

Ari said...

Nice story.. kata2nya mengalir, lembut, ringan tapi sarat hikmah. Tp judulnya ganti dung! Bgmnpun judul kan pintu. Masak isinya mantabbbb judulnya mantab aja.. hehe. :-P Terus berkarya ya!

Irwanda Wisnu Wardhana said...

oke deh. tks for your comment

Kang Amir said...

Kang Wisnu, waduh menarik sekali perjalannya yang penuh hikmah. Omong2 masih suka (sempat - red) bolos nih. Hi hi hi.
Blog-nya ku link ke blogku ya biar nambah rame.

toupik said...

great..2 hari sarat hikmah, bagaiamana dengan penggalan kisah selama 1,5 tahun disana??? pasti kalo dikuak seru dan bs memberi inspirasi banyak orang...good job

Irwanda Wisnu Wardhana said...

hehehe bolosnya jumat sore mas... abis pesawat paling sore jam 17...
Tapi aku paksa hadir karena sudah janji dgn panitia. Aku sudah add link ke mas amir juga neh...

utk 1,5 tahun bersama mas toupik, duh kayaknya agak susah. karena terpaksa, jadi berlalu tanpa kenangan hahaha.

btw, i'll try piece by piece

Budhi Setyawan said...

ketika waktu berjalan dengan bertanya: apa yang telah enkau hasilkan? banyak ornag terbata-bata: apa yaa? semoga telah banyak karya dan terus berkarya. jadikan berkarya adalah nafas!

Irwanda Wisnu Wardhana said...

terima kasih banyak buat kawan2 tercinta.. semoga hari demi hari kita semakin baik, semakin shaleh, semakin produktif ya.

Pak budi kapa nerbitin buku lagi... saya mau dung ikutan aktif di peluncurannya..

hehehe

Post a Comment